ADAB MEMPELAJARI HADITS

Tuesday, December 1, 2009

PENDAHULUAN


Alhamdulillahirobbil ‘alamin, puji syukur kita lantunkan kepada Allah SWT. yang telah memberikan banyak nikmat kepada kita berupa Iman dan Islam sehingga kita bisa menyelesaikan tugas ini walaupun masih banyak kekurangan didalamnya.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. yang membimbing kita dari kebodohan menuju tata syari’at yang indah dengan penuh rasa cinta, sehingga kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Rasa terima kasih, tulus kami ucapkan kepada Dosen kami, Ust. Andi Rahman, MA., yang dengan sabar mengantar kami untuk menggapai cita-cita di masa mendatang.


PEMBAHASAN
Yang dimaksudkan dengan adab penuntut hadis adalah sifat-sifat yang memang harus dimiliki oleh para penuntut hadis, berupa adab yang tinggi dan akhlak yang mulia, sesuai dengan mulianya ilmu yang tengah dituntut, yaitu hadis Rasulullah SAW. Di antara adab-adab tersebut ada yang bersekutu dengan adab bagi muhaddits, ada juga yang khusus bagi penuntut hadis.
Adab Muhaddits
Seseorang yang menyibukkan dirinya dengan hadits serta menyebarluaskannya ketengah-tengah masyarakat, maka seorang muhaddits sudah selayaknya menjadi teladan, bersifat jujur terhadap apa yang disampaikannya, dan mengamalkan hadits pada dirinya sendiri sebelum memerintahkannya pada orang lain.
Adab untuk Menjadi Muhaddits
a. Meluruskan niat dan ikhlas, yaitu dengan membersihkan hati dari motif-motif keduniawian seperti mencari kedudukan dan popularitas.
b. Memberi perhatian yang amat besar terhadap penyebarluasan hadits, dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam rangka meraih pahala yang melimpah.
c. Tidak berbicara hadits di depan orang yang lebih utama daripada dirinya, baik dari sisi usia maupun ilmunya.
d. Hendaknya seorang muhaddits membentuk majelis untuk mengkaji hadits jika memang memiliki kelayakan untuk mengajarkan hadits.
Anjuran-Anjuran Jika Hendak Menghadiri Mejelis
a. Bersuci, merapikan diri, dan menata jenggot
b. Duduk dengan tentang dan penuh perhatian sebagai penghormatan terhadap hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
c. Menghadap kepada seluruh peserta majelis serta tidak menaruh perhatian hanya pada orang-orang tertentu dengan melalaikan peserta yang lain.
d. Membuka dan menutup majelis dengan pujian kepada Allah Ta’ala serta shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Usia Seseorang sehingga Layak untuk Menyampaikan Hadits
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat:
a. Ada yang berpendapat usia lima puluh tahun. Ada pula yang mengatakan usia empat puluh tahun.
b. Pendapat yang benar adalah ketika seseorang sudah memiliki kemampuan dan sanggup membentuk majelis hadits, berapa pun usianya.
Adab Penuntut Ilmu Hadits
Adab yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu hadits yaitu berupa adab yang tinggi dan akhlak yang mulia. Di antara adab-adab tersebut ada yang bersekutu dengan muhaddits, dan ada juga yang khusus bagi penuntut ilmu hadits, diantaranya:
a. Senantiasa meminta taufik, arahan, kemudahan, dan pertolongan Allah Ta’ala dalam hal hafalan hadits dan pemahamannya.
b. Selalu memperhatikan hadits secara komprehensif dan mengerahkan seluruh upaya untuk meraihnya.
c. Memulai dengan mendengar dari para guru yang paling utama di negerinya, baik dalam hal sanad, ilmu, maupun agamanya.
d. Memuliakan gurunya dan orang-orang yang mendengarkannya serta senantiasa menghormatinya.
e. Sifat malu dan sombong hendaknya tidak menghalanginya untuk terus mendengar dan mendapatkan ilmu, meskipun berasal dari orang yang lebih muda atau kedudukannya lebih rendah.
f. Berusaha memahami hadits yang telah ditulis. Oleh karena itu, ia harus rela melelahkan dirinya tanpat mengenal waktu.
g. Dalam hal mendengar, menghafal, dan memahaminya, hendaknya ia mendahulukan kitab Shahihain, kemudian Sunan Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, lalu Sunan Al-Kubra Baihaqi. Setelah itu bersandar pada kitab-kitab musnad dan jawami’, seperti Musnad Imam Ahmad, Al-Muwatha’ Imam Malik, termasuk kitab ‘Ilal seperti ‘Ilal Daruquthni. Sedangkan kitab yang memuat nama-nama perawi adalah Tarikh Kabir Imam Bukhari, begitu juga Jarh wa Ta’dil Ibnu Abi Hatim, Diabthu Al-Asma Ibnu Makula. Kitab yang membahas hadits gharib adalah kitab An-Nihayat Ibnu Katsir.
Adab untuk Bersekutu dengan Muhaddits
a. Meluruskan niat dan ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala dalam menuntut ilmu hadits.
b. Bersikap hati-hati terhadap tujuannya menuntut ilmu hadits yang bisa menjerumuskannya pada motivasi keduniawian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dianjurkan untuk Allah Ta’ala, dan ia tidak mempelajarinya melainkan untuk meraih keduniawian, maka pada hari Kiamat tidak akan memperoleh harumnya wangi surga.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah)
c. Mengamalkan hadits yang didengarnya.[1]

PENUTUP/KESIMPULAN
Sehubungan dengan pentingnya hadis, sebagian ‘ulama telah mewajibkan untuk meminta keridloan guru yang mengajar hadis sebelum memulai belajar. Karena hal ini akan menciptakan kerelaan untuk yang belajar maupun sebaliknya.Asy-Syalabi berkata,” barang siapa melangkah sebelum waktu pelaksanaannya, berarti ia telah menghadapi kehinaan.”
Maka, untuk menjaga diri dan kekhawatiran menghadapi kehinaan yang disebabkan karena guru yang mengajar tidak ridlo. Para ‘ulama telah menyarankan agar terlebih dahulu meminta kesediaannya. Diantara orang yang menerapkan konsep ini adalah Malik bin Anas r.a.[2]

DAFTAR PUSTAKAAN
Al-Wakki, aq-Layanah. 1994. Metode Pengajaran Hadis. Jakarta: Granada Nadia.

Thahan, Mahmud. 2006. Taisir Mushtholahul Hadits. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
[1] Mahmud Thahan, Taisir Mushtholahul Hadits, ( Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2006) hal. 229
[2]Aq-Layanah Al-Wakki, Metode Pengajaran Hadis,( Jakarta: Granada Nadia, 1994) hal.21

0 comments: